Bantaeng, 07/11 – 2013 – Sebanyak 37 orang peserta mengikuti lomba Duta Baca keluarga
dan Duta Baca Cilik tingkat Kabupaten Bantaeng yang digelar di Balai Kartini
Bantaeng, Kamis (7/11).
Ke-37 peserta tersebut masing-masing
16 peserta (dari 20 orang) yang ikut seleksi Duta Baca Cilik, sedang untuk
kategori Duta Baca Keluarga diikuti 21 peserta dari 29 yang ikut seleksi.
Seleksi yang dilakukan panitia
meliputi seleksi administrasi, wawancara dan resensi buku untuk peserta Duta
Baca Keluarga sedang Duta Baca Cilik seleksinya meliputi wawancara dan
mendongeng tentang cerita rakyat Sulsel, kata Kepala Perpustakaan dan Arsip
Daerah DRa Estha Karim M.Ikom.
Pemilihan Duta Baca Keluarga dan
Duta Baca Cilik yang berlangsung sehari itu dibuka Bupati Bantaeng HM Nurdin
Abdullah. Sebelum peresmian, komunitas perpustakaan Bantaeng juga memperingati
Hari Ulang Tahun Emas Bupati Bantaeng.
Peringatan HUT tersebut diwarnai
tiup lilin dan pemotongan kue oleh Bupati bersama Ketua Tim Penggerak PKK Hj
Lies F Nurdin, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Hj Aisyah Yasin dan para
pejabat SKPD.
Ketua Tim Penggerak PKK yang juga
istri Bupati HM Nurdin Abdullah pada kesempatan itu juga membacakan puisi yang
ditulisnya sendiri. Puisi tersebut berjudul Nahkodaku.
Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah
mengatakan, peringatan HUT ke 50 pertanda usia semakin berkurang. Ia kemudian
bercerita tentang pahit getirnya kehidupan yang berhasil dilalui dalam 50
tahun.
Terlahir sebagai anak tentara,
Nurdin yang lahir dan besar di Kota Niaga Parepare harus berpindah-pindah
mengikuti sang ayah yang bertugas ke Kabupaten Soppeng.
Meski begitu, ia bertekad untuk
membahagiakan orang tua. Caranya dengan menjaga nama baik selama dalam
pertumbuhan dan pada saaat sudah mampu, disitulah.
Sejak duduk di bangku SMP, Nurdin
sudah pandai cari uang, ia bersama gurunya yang kreatif di Parepare membuat
diktat dan mengerjakan taman.
Ketika masuk SMA, ia pindah ke
Makassar. Ketika itupun ia sudah pandai cari duit dan mendapat kepercayaan
memegang uang puluhan juta karena memiliki integritas.
Saat kuliah di Unhas, ia
dipertemukan dengan seorang wanita yang baik hati, meski putri Rektor namun ia
baik hati, tuturnya. Ia kemudian menikah kemudian mencoba hidup mandiri hingga
sekolah ke Jepang.
Usai menyelesaikan study, Nurdin
dipercaya oleh pengusaha Jepang yang membuka usaha perikanan di Genoa, Bali.
Sejak menjadi karyawan, Nurdin bekerja bersungguh-sungguh.
‘’Meski saya sudah doctor, namun
semua gelar saya lepas untuk bekerja keras menjaga kepercayaan,’’ ujarnya.
Hasilnya, ia dipercaya menjadi Presiden Direktur untuk Indonesia.
Dari situ kemudian lahir Maruki
Internasional, tambahnya seraya mengajak anak-anak untuk selalu optimistis.
Jangan berkecil hati hanya karena orang tua kurang mampu.
‘’Jangan cepat putus asa karena
kesulitan karena kekuasaan milik Allah, Saya sendiri tidak pernah bercita-cita
menjadi bupati, namun apapun yang diberikan oleh Allah kita harus ikhlas,’’
tandasnya.
Ia juga berpesan agar banyak membaca
sebab hanya dengan membaca ilmu akan bertambah dan pada saatnya bangsa kita
akna kuat. Di luar negeri, terang Nurdin lagi, kemana saja, orang-orang pasti
membaca buku atupun Koran dan berbagai jenis bacaan lainnya.(hms)


0 komentar: