Bantaeng, 04/11 – 2013 - Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Purnawirawan Pramono Edhie Wibowo mengatakan, Indonesia kini memiliki mobil tempur (tank) terbanyak di Asia Tenggara.
‘’Terakhir
kita membeli tank canggih sebanyak 150 unit dengan harga 280 juta dolar
AS,’’katanya ketika berbicara di depan 224 orang mahasiswa peserta Kuliah Kerja
Nyata (KKN) Kebangsaan di gedung Balai Kartini Bantaeng, Senin (4/11).
Jenderal
Edhie yang tampil bersama Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah pada dialog
kebangsaan tersebut mengangkat tema Yang Muda Yang Membangun.
Ipar
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono itu mengatakan, pembelian kendaraan lapis
baja sebanyak itu merupakan keberhasilan tersendiri sebab dilakukan tanpa
perantara.
‘’Semula,
dengan uang sebanyak itu, kita hanya bisa memperoleh 44 unit. Namun setelah
kita langsung ke industrinya, ternyata kita diberi harga pantas lengkap dengan
peluru siap tempur,’’ ujarnya.
Atas
keberhasilan tersebut, Pramono Edhie Wibowo kemudian dipanggil Presiden karena
ada yang melapor salah, namun setelah dijelaskan, akhirnya Presiden SBY
mengerti.
‘’Ketika
itu, saya diiming-imingi sejumlah uang agar pembelian dilakukan melalui broker,
namun saya bertekad membeli sesuai kebutuhan bangsa dan Negara. Makanya saya
dilapor. Namun, Alhamdulillah, setelah saya jelaskan, akhirnya dapat
dimengerti,’’ tambahnya.
Dengan
tambahan kekuatan system pertahanan keamanan Negara tersebut, Indonesia kini
semakin disegani, terutama Negara tetangga.
Karena
itu, ia berharap, mahasiswa dapat mempersiapkan diri mengambil alih tongkat
kepemimpinan untuk membawa bangsa ini ke masa depan.
‘’Aku
ingin generasi muda bisa lebih hebat dari generasi sebelumnya. Aku hanya bisa
menitip semangat untuk membawa bangsa yang besar ini menjadi bangsa yang
benar-benar disegani,’’ urainya.
Bahwa
bangsa ini belum sempurna, menjadi tugas generasi muda untuk lebih mengenali
bangsamu dengan benar. ‘’Jangan mengadaptasi yang jelek, apalagi bangga
terhadap bangsa lain,’’ tandasnya.
Bangsa
lain belum tentu hebat seperti yang biasa kita lihat di TV. Buktinya, ketika
Pramono Edhie tugas belajar ke AS. Pada beberapa kesempatan praktek lapangan,
ternyata mereka itu hanya pandai teori.
Badannya
yang besar belum tentu mengalahkan kita yang berbadan lebih kecil. Di lapangan
ternyata kita lebih unggul, terlebih kita memiliki banyak pengalaman, urai
putra kelima Jenderal Sarwo Edi yang lama bertugas di Timor Timur.
‘’Saya
sudah mendatangi lebih dari 40 negara di dunia, namun saya semakin bangga
menjadi bangsa Indonesia,’’ tuturnya lagi seraya mengatakan, bila masih ada
generasi yang kurang puas, bangunlah yang lebih baik karena bukan berarti tidak
ada yang dicapai bangsa ini.
Ia
kemudian memuji para mahasiswa yang mengabdikan diri terhadap masyarakat desa
melalui program KKN Kebangsaan. ‘’Fahami yang kecil agar dapat membangun yang
besar,’’ pesannya.
Ia
juga mengatakan, resapi dan dalami kehidupan masyarakat desa. Bagaimana mereka
hidup damai dengan gotong royong yang sangat berbeda dengan masyarakat kota.
Contohlah
Bupati Bantaeng, seorang teknokrat yang berhasil membangun daerah tertinggal
menjadi daerah maju.
Pelajari,
bagaimana pak Bupati membangun agar kelak mendapat pengalaman berharga yang
mungkin saja bisa diterapkan sekembalinya ke kampung halaman masing-masing.
‘’Kamu
tak akan mengenal bangsamu bila tidak turun ke desa sebab negeri ini berawal
dari desa,’’ tambahnya lagi sembari mengajak seluruh generasi muda, terutama
mahasiswa lebih peduli.
‘’Kita
tidak boleh minder. Kita harus yakin pada diri sendiri. Bahwa keadaan kita
belum sempurnah, itu karena kita masih dalam tahap belajar. Jangan menyerah.
Perkuat hati sebab dengan hati kita bisa menjalani apa saja,’’ tuturnya.(hms)


0 komentar: